CPNSDunia KerjaInterview Kerja

Mengapa Cari Kerja Semakin Susah? AI dan Otomatisasi Jadi Penyebab Utama

depokloker

Cari Kerja

DEPOKLOKER.COM – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terus mengubah lanskap dunia kerja. Sejumlah perusahaan bahkan menjadikan adopsi AI sebagai alasan untuk melakukan efisiensi tenaga kerja, termasuk pengurangan karyawan dan perlambatan proses rekrutmen.

AI dan Otomatisasi

Di tengah perubahan tersebut, para pekerja dituntut untuk beradaptasi dengan cepat. Kemampuan memanfaatkan AI dalam aktivitas kerja sehari-hari kini menjadi salah satu keterampilan yang semakin dibutuhkan di berbagai industri.

Namun, tantangan yang muncul bukan hanya soal potensi hilangnya pekerjaan. Menurut CEO Larry Fink, masyarakat saat ini justru belum siap mengisi berbagai jenis pekerjaan baru yang diperkirakan akan tercipta berkat perkembangan AI.

Fink menilai kecerdasan buatan akan membuka banyak peluang kerja baru di masa depan. Sayangnya, ketersediaan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri dinilai masih belum mencukupi.

“AI akan menciptakan banyak lapangan kerja, dan sebagai masyarakat kita belum siap untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan tersebut,” ujar Fink dalam sebuah wawancara yang dikutip dari Semafor pada Maret 2026.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar di era AI bukan hanya menggantikan pekerjaan manusia, melainkan bagaimana mempersiapkan sumber daya manusia agar mampu mengisi posisi-posisi baru yang muncul seiring transformasi teknologi yang semakin cepat.

Para ahli juga memperkirakan dampak transformasi AI akan paling terasa bagi para lulusan baru perguruan tinggi. Kelompok ini dinilai menjadi salah satu yang paling rentan menghadapi persaingan kerja yang semakin ketat di tengah perubahan kebutuhan industri.

CEO Penta Group, Matt McDonald, menilai berkurangnya peluang kerja bagi generasi muda berpotensi memicu ketegangan antargenerasi. Menurutnya, ketika lulusan baru kesulitan memasuki dunia kerja sementara generasi yang lebih tua masih bertahan di posisi mereka, tekanan sosial dan ekonomi dapat meningkat.

CEO Penta Group, Matt McDonald

McDonald menjelaskan bahwa kombinasi antara minimnya lapangan kerja untuk lulusan perguruan tinggi dan kondisi ekonomi yang membuat banyak pekerja senior menunda pensiun bisa menjadi pemicu munculnya konflik kepentingan antar kelompok usia.

Di sisi lain, pekerjaan yang selama ini berada di sektor ekonomi berbasis pengetahuan menjadi salah satu yang paling terdampak oleh perkembangan AI. Banyak tugas yang sebelumnya dikerjakan manusia kini mulai dapat diotomatisasi dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan.

Ironisnya, meskipun AI diperkirakan menciptakan jenis pekerjaan baru, tidak semua pencari kerja memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk mengisi posisi tersebut. Akibatnya, proses transisi menuju era kerja berbasis AI diperkirakan akan menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan, perusahaan, dan tenaga kerja.

Karena itu, berbagai pihak menilai perusahaan perlu mulai mempersiapkan strategi untuk menghadapi perubahan ini, termasuk melalui program pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan keterampilan (upskilling) agar tenaga kerja dapat beradaptasi dengan kebutuhan industri masa depan.

Baca Juga